Kamis, 10 April 2014



Tips-Tips Menggambar Dengan Pensil Warna

Temen-temen semua ,,,, banyak cara dan tehnik gambar maupun mewarnai menggunakan pensil warna. Namun, yang paling sering digunakan untuk pensil warna yaitu tehnik arsir.
Tips-tipsnya menggambar dan mewarnai menggunakan pensil warna:
1.      Sket terlebih dahulu.
Buatlah gambar tipis sebagai dasar gambar yang ingin kamu gambar. Tidak perlu terlalu tebal yang penting terlihat. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kesalahan dalam menggambar dan mewarnai nantinya.
2.      Out line.
Bagi yang suka out line (garis luar gambar) boleh membuat out line terlebih dahulu baru mewarnai bagian dalam. Bagi yang tidak suka out line bisa langsung mewarnai objek yang di gambar. Tapi jika teman-teman semua masih belajar lebih di anjurkan menggunakan out line terlebih dahulu.
3.      Pencahayaan
Pencahayaan itu penting, kalian harus tau dari mana asalna cahaya dating. Aar terlihat nyata objek harus diberi pencahayaan. Khususnya letak objek juga harus diperhatikan. Setiap objek pasti memiliki bayangan. Maka bayangan itulah yang perlu diperjelas agar objek terlihat timbul dan nyata.
4.      Tehnik
Tehnik arsirnya harus satu arah. Hal inipaut diingat agar goresan pensil warna tidak tumpang tindih serta tidak bertubrukan goresan satu dengan goresan yang lain.
5.      Gradasi warna dan pencampuran warna.
Setiap gambar membutuhkan gradasi warna, agar objek terlihat nyata dan warnanya terlih alami. Pencampuran warna dalam pensil warna agak sulit. Diperlukan kerja lebih dalam pencampuran warnanya. Warna muda terlebih dahulu baru kemudian warna tua, diusahakan ketebalan warna sama. Daya tekan dalam menggores
Pensil warna juga perlu di control.
6.      Penghapus.
Pensil warna masih dapat dihapus menggunakan penghapus biasa, namun hasilnya tidak maksimal. Ada penghapus khusus yang bisa digunakan untuk menghapus pensil warna, bisa teman-teman beli di took
Itulah tips-tips yang bisa saya sarankan untuk teman-teman semua. Sekiranya ada yang keberatan ataupun ada kekeliruan semoga ada yang apat membenarkan, agar kita tidak terjebak dalam lingkaran kesalahan,,,, hehehehe sok bijak nih aq,,, SELAMAT MENCOBA TEMAN-TEMAN ^_^

Berikut ini contoh dari karya saya ^_^
1. Sket  terlebih dahulu, baru kemudian mewarnai mulai dari warna yang paling terang

 2. Setelah itu  dapat melanjutkan dengan warna yang gelap, jika teman teman lebih suka tidak menggunakan tehnik outline garis bisa langsung mewarnai seperti gambar di bawah ini,


3. Jika teman teman lebih suka tehnik out line terlebih dahulu, kalian dapat membuat out line dari objek tersebet kemudian kalian mewarnai bagian dalam nya,
 
 

4. Apabila sudah selesai, kalian dapat melanjutkan mewarnai dengan tehnik gelap terang, hal ini dilakukan agar gambar terlihat nyata.
5. Lengkapi gambar. ingat membuat karya seni tidak perlu sempurna, namun yang paling penting adalah hati kita yang bahagia.
 

 ^_^ Ummay






















BUDAYA RITUAL SIRAMAN GONG KYAI PRADAH SEBAGAI TRADISI MASYARAKAT BLITAR

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS ULANGAN TENGAH SEMESTER GENAP
MATA KULIAH KEBUDAYAAN INDONESIA
Yang dibina oleh Bapak Drs. Mistaram, M.Pd. dan Bapak Drs. AAG Rai Arimbawa, M.Sn.

Oleh
Misyatul Umayah
130251613144






UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS SASTRA
JURUSAN SENI DAN DESAIN
Maret 2014

A.    Latar Belakang Keberadaan
Keberadaan kebudayaan Upacara Tradisional Siraman Gong Kyai Pradah / Pusaka Gong Kyai Pradah Di Kel. Kalipang Kec. Sutojayan Lodoyo Blitar. Ditinjau dari asal katanya, kata siraman berasal dari kata siram (bahasa Jawa) berarti ‘mengguyur dengan air. Dalam bahasa Indonesia, kata siram berarti ‘mandi’, siraman ‘berarti upacara memandikan pusaka. Adapun Kyai Pradah adalah sebutan sebuah gong yang dikeramatkan masyarakat Lodoyo sebagai benda pusaka.Jadi yang dimaksud dengan siraman Kyai Pradah adalah kegiatan memandikan benda pusaka berupa sebuah gong dengan menggunakan air kembang setaman.
 Tersebutlah dalam kisah, antara tahun 1704 – 1719 Masehi di Surakarta bertahtalah seorang Raja bemama SRI Susuhun Am Paku Buwono I. Raja ini mempunyai saudara tua yang lahir dari istri ampeyan (bukan Permaisuri) bernama Pangeran Prabu.
Pada saat penobatan Sri Susuhunan Paku Buwono I sebagai Raja, hati Pangeran Prabu sangat kecewa karena sebagai saudara tua Pangeran Prabu tidak dinobatkan sebagai Raja di Surakarta sehingga timbullah keinginannya untuk membunuh Sri Susuhunan Paku Buwoono I. Namun, akhirnya kebinginun Pangeran Prabu tersebut tercium oleh Sri Susuhunan Paku Buwono I dan sebagai hukumannya Pangeran Prabu diperintahkan untuk membuka hutan di daerah Lodoyo yang pada saat itu merupakan hutan yang sangat lebat yang dihuni oleh binatang – binatang buas serta hutan tersebut dianggap sebagai tempat yang sangat angker dimana banyak rokh – rokh jahat berkeliaran disana.
Hukuman yang diberikan oleh Raja Sri Susuhunan Paku Buwono I kepada Pangeran Prabu itu sebenarnya ialah agar Pangeran Prabu menemui ajalnya di tempat hukuman karena dimakan oleh binatang- binatang buas atau sebab-sebab lain yang bisa terjadi di hutan yang masih liar tersebut Pangeran Prabu mengakui akan kesalahannya serta bersedia melaksanakan hukuman yang diberikan oleh Raja yaitu membuka hutan di daerah Lodoyo.
Keberangkatannya diikuti oleh istrinya yaitu Putri Wandansari serta abdi kesayangannya bemama Ki Amat Tariman dengan membawa Pusaka berupa bende yang disebut Kyai Becak. Pusaka tersebut akan digunakan untuk tumbal hutan Lodoyo yang dianggap angker serta banyak dihuni oleh roh – roh jahat.
Menurut beberapa cerita bahwa bende Kyai Becak pernah digunakan oleh Demang Bocor untuk memadam- kan pemberontakan Ki Ageng Mangir seorang sakti yang tidak setia kepada Raja. Pangeran Prabu beserta pengikutnya berangkat dari Surakarta menuju kearah timur. Selang beberapa bulan mereka sampai di daerah Lodoyo.
Pertama-tama mereka datang di rumah seorang janda bemama Nyi Partasuta di hutan Ngekul. Pangeran Prabu yang masih merasakan penderitaan dan kesedihan itu tidak lama tinggal di rumah janda Nyi Partasuta dan ingin bertapa di hutan Pakel ( Wilayah Lodoyo bagian barat) dan untuk itu Pusaka Kyai Becak dititipkan kepada Nyi Partasuta dengan pesan agar:
1.      Setiap tanggal 1 Syawal (bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri ) dan setiap tanggal 12 Rabiulawal ( ber­tepatan dengan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW) Pusaka tersebut harus dimandikan dengan air bunga setaman.
2.      Air bekas memandikan Pusaka ter­sebut dapat digunakan menyembuhkan penyakit serta dapat menentram kan hati bagi siapa yang mau meminumnya.
Sepeninggal Pangeran Prabu selalu melak- sanakan segalayang pernah dipesankan oleh Pangeran Prabu kepadanya tentang Pusaka Kyai Becak. Setelah Nyi Partasuta meninggal dunia, Pusaka Kyai Becak diserahkan kepada Ki Rediboyo di Ngekul.
Sampai sekarang pesan Pange Ran Prabu untuk memelihara Pusaka Kyai Pradah tetap dilaksanakan dengan baik serta menjadi suatu Upacara Adat / Tradisional Siraman Pusaka Kyai Pradah setiap tanggal 1 Syawal dan setiap tgl. 12 Rabiulawal dan Upacara yang terakhir ini biasanya dikunjungi oleh puluhan ribu manusia baik dari dalam maupun luar daerah. Demikian sejarah ringkas Pusaka Kyai Pradah di Lodoyo yang dikutip dari ceritera Babat Pusaka Kyai Pradah di Lodoyo menurut Serat Babat Tanah Jawi. 
Kebudayaan ini dirasa penting untuk dikupas secara mendalam karena keberadaanya yang selalu dilestarikan oleh masyarakat setempat. Kebudayaan ini memiliki keterkaitan dengan social kemasyarakatan, pendidikan, serta bidang ekonomi. Pengkajian tentang budaya Upacara Tradisional Siraman Gong Kyai Pradah / Pusaka Gong Kyai Pradah Di Kel. Kalipang Kec. Sutojayan Lodoyo Blitar ini mengandung nilai sejarah serta nilai budaya yang kental bagi masyarakat sekitarnya.
B.     Permasalahan Konsep

Upacara Tradisional Siraman Gong Kyai Pradah / Pusaka Gong Kyai Pradah Di Kel. Kalipang Kec. Sutojayan Lodoyo Blitar ini masih menggunakan konsep kejawen . dilihat dari pelaksanaanya yang selalu di adakan setiap tanggal 1 Syawal dan tanggal 12 Robiul Awal. Tanggal 1 syawal dipilih karena bertepatan dengan tahun baru penanggalan Hijriah, tanggal 12 Robiul Awal adalah penanggalan lahirnya Nabi Muhammad saw. Tanggal tanggal ini dipilih karena gong kyai pradah itu sendidri adalah benda pusaka dari kerajaan Islam. Namun, tidak lepas dari kebudayaan yang sebenarnya tidak ada dalam agama islam. Contohnya, sebelum diadakan siraman masyarakat mengadakan selamatan terlebih dahulu serta penyembelihan hewan kurban.
Percampuran budaya jawa serta tradisi memperingati hari besar Islam lah yang meladasi konsep dari ritual ini. Ritual ini juga sebagai sarana pendekatan msaayarakat dengan pemerintah daerah disana. Masyarakat sekitar juga mendapatkan berkah tersendiri dengan adanya ritual tersebut. Mereka dapat berjualan di sekitar area ritual.

C.     Permasalahan Aktifitas

Masyarakat akan disibukkan serangkaian aktifitas dari acara siraman gong kyai pradah, bahkan beberapa hari sebelum acara siraman itu benar-benar dimulai. Upacara siraman Kyai Pradah dilaksanakan dua kali setahun, yaitu setiap tanggal 12 Robiul Awal bertepatan dengan hari Maulud Nabi Muhammad dan tanggal 1 Syawal bertepatan dengan hari Raya Idul Fitri. Khusus penyelenggaraan tanggal 12 Robiul Awal upacara diadakan secara besar-besaran, sedangkan upacara yang diadakan pada tanggal 1 Syawal dilaksanakan secara sederhana oleh petugas yang berkepentingan saja.
Secara keseluruhan acara dalam upacara siraman ini dapatdiklasifikasi menjadi tiga tahap:
a)      Tahap persiapan,meliputi acara pembentukan panitia, menghias tempat upacara, memotong kambing sesaji, dan membuat sesaji.
b)       Tahap pelaksanaan,meliputi acara tirakatan, selamatan, ziarah, dan siraman.
c)       Tahap penutupan, meliputi acara selamatan, hiburan, sepasaran, dan selapanan.

Tokoh-tokoh yang berperan sebagai penyelenggara teknis upacara adalah sebagai berikut.
a)      Pejabat Pemerintah. Pada upaeara yang dilaksanakan pada tanggal 12 Robiul Awal sebagai penanggung jawab formal pelaksana upacara adalah Bupati Blitar, sedangkan pada upaeara 1 Syawal tokoh yang berperan adalah Pembantu Bupati Lodoyo.
b)      Juru kunci, yaitu juru kunci petilasan dan juru kunci Kyai Pradah.
c)      Para dhalang yang bertempat tinggal di Lodoyo, bertugas membawa kenong dan wayang krucil.
d)     Petugas pembawa panji-panji Kawedanan Lodoyo dan payung.
e)      Pemain kesenian tradisional.
f)       Pemasak sesaji.
Upacara siraman berlangsung dua hari. Sehari menjelang acara puncak kurang lebih pukul 14.00 WIB dimulailah acara menghias tempat upacara, dilanjutkan dengan pemotongan kambing sesaji, serta pembuatan sesaji. Sedangkan pembentukan panitia sudah diadakan lima belas hari sebelumnya.

Masih dalam satu rangkaian waktu, pukul 19.00 WIB dilaksanakan tirakatan sampai pukul 04.00 WIB keesokan harinya. Namun, ditengah acara tirakatan yaitu pukul 24.00 WIB acara dihentikan sejenak untuk melaksanakan selamatan. Pagi harinya pukul 07.30 WIB acara dilanjutkan dengan berziarah ke Dukuh Dadapan. Barulah pada pukul 11.00 WIB puncak acara siraman dilaksanakan. Seusai siraman dilanjutkan dengan selamatan dan hiburan. Acara hiburan ini biasanya diisi dengan pagelaran wayang atau orkes. Hiburan berakhir bersama selesainya pagelaran ringgit purwo yang diselenggarakan pada malam hari tanggal 12 Rabiul Awal.
Sebelum acara puncak siraman dilakukan, puluhan pasukan mengarak benda-benda pusaka diantaranya, Gong Kiai Pradah dari tempat penyimpanan benda pusaka, yang bernama paseban. Letaknya, di sebelah barat alun-alun, yang berjarak sekitar 10 meter. Juru kunci Gong Kiai Pradah, membawa gong itu dengan digendong menggunakan selendang.beliau berada di baris paling depan, dengan diikuti peserta lainya yang menggunakan pakaian ala jawa.
Setelah dibawa keliling alun-alun sekali dengan diiringi gending-gending jawa, kemudian dinaikkan ke atas panggung. Sampai di atas panggung, kain putih atau mori yang dipakai bungkus gong itu dibuka. Selanjutnya, gong itu dimandikan dengan air yang sudah diberi bunga setaman. Bunga itu sudah direndam sehari semalam. Yang memandikan adalah Bupati yang menjabat bergantian dengan juru kunci. Airnya tak dibuang namun dituangkan pada dua drum, yang kemudian dibagi-bagikan ke warga yang sudah menunggu di bawah panggung. Tak pelak, saat bupati atau pejabat lainnya menuangkan air bekas dipakai memandikan gong dari atas panggung, warga berdesak-desakkan dan berebut air bertuah itu. Setelah dimandikan, gong itu dipukul tujuh kali oleh bupati. Setiap memukul, bupati bilang sae nopo awon (baik apa buruk). Oleh warga dijawab, baik.
Maksudnya, setiap satu pukulan itu punya makna. Yakni, tujuh kali pukulan itu melambangkan tujuh hari dalam seminggu. Artinya, diharapkan warga Blitar setiap hari atau dalam tujuh hari selalu mendapat berkah . serta tidak mendapatkan hal yang buruk. "Gong itu kami pukul tujuh kali, dan setiap akan memukulnya, saya bilang baik atau buruk. Oleh, warga dijawab baik atau bagus. Harapannya, dalam seminggu yang terdiri tujuh hari itu tiap hari mendapatkan kebaikkan," ujar bupati yang sedang menjabat.
Selesai dipukul, gong itu kembali dibungkus kain mori dan dikembalikan dengan cara semula. Yakni, diarak keliling alun-alun sambil diiringi warga yang berpakaian ala jawa. Saat dibawa kelling alun-alun, acara tersebut ditutup dengan acara makan tumpeng bersama. Sebagai penutup upacara siraman Kyai Pradah setelah lima hari diadakan selamatan sepasaran serta selamatan selapanan pada hari ke-35 dari saat siraman.
Kontribusi atau keterkaitan kegiatan Upacara Adat Siraman Gong Kyai Pradah dengan kehidupan social masyarakat di sana sangatlah besar. Dengan adanya tradisi ini dapat mempererat tali silaturahmi antar masyarakatnya dengan para pejabat daerah yang ada di sana. Dalam acara tersebut masyarakat umum dapat berinteraksi sengan masyarakatnya. Begitu juga masyarakat yang ada akan lebih saling berinteraksi satu sama lain dalam acara tersebut.
Kontribusi atau hubungan kagiatan Upacara Adat Siraman Gong Kyai Pradah sangatlah besar karena Ritual penyiraman Gong kyai Pradah Ini telah dijadikan sebagai even taunan bagi dinas pariwisata Kabupaten Blitar. Karena dianggap mampu mendatangkan banyak pengunjung dan membawa keuntungan bagi masyarakat. Masyarakat sekitar dapat berjualan di sekitar daerah ritual bahkan seminggu sebelumnya sudah banyak pedagang yang berjualan. Banyak juga warga luar kota yang ikut berjualan disana. Dengan demikian dengan adanya upacara adat ini perekonomian warga sekitar ikut terbantu.

D.   
Permasalahan Artefak
Dilihat dari segi bendanya gong kyai pradah itu sendiri adalah sebuah gong peninggalan leluhur yang tak ubahnya bentuknya seperti gong kebanyakan, bentuknya berupa Gong (kempul) laras lima yang dahulu dibalut/ ditutup dengan sutera Pelangi / Cinde dan disamping itu masih ada juga beberapa wayang krucil, kecer dan beberapa benda lainnya. Gong ini niberi nama Kyai Pradah yang artinya kyai macan, hal ini dikarenakan ketika zaman dahulu saat Lodoyo masih berupa hutan yang lebat apabila gong Kyai Pradah itu dibunyikan suaranya akan menggema di dalam hutan, hingga suaranya menyerupai gauman seekor macan.
 Pada saat Ki Amat Tariman sangat kebingungan karena terpisah dengan Pangeran Prabu, sehingga akhirnya Ki Amat Tariman ingin mencoba membunyikan Gong Kyai Becak sebanyak tujuh kali dengan maksud agar apabila Pangeran Prabu Mendengar bunyi bende / Gong tersebut tentu akan mencari kearah sumber suara itu. Tetapi yang datang ternyata bukan Pangeran Prabu seperti yang diharapkan namun beberapa ekor harimau besar. Anehnya harimau – harimau itu tidak mengganggu kepada Ki Amat Tariman bahkan memberikan petunjuk dimana Pangeran Prabu berada sehingga Kyai Becak juga disebut Kyai Macan atau Kyai Pradah, hal ini juga lah yang melatar belakangi penamaan dari Gong Pradah ini.
Ada kepercayaan warga sekitar yang sampai sekarang masih terjaga. Warga sekitar percaya bahwa air bekas siraman dari gong kyai pradah dapat digunakan sebagai penyembuh segala macam penyakit. Ada juga masyarakat luar kota yang khusus dating pada saat Upacara Siraman Gong Kyai Pradah hanya untuk mendapat berkah dan air bekas siraman gong untuk dijadkan sebagai jimat.
E.     Permasalahan Nilai Sejarah, Etika, Dan Estetika
Nilai sejarah dari Upacara Adat Siraman Gong Kyai Pradah adalah dari gong itu sendiri. gong Kyai Macan yang disertakan Pangeran Prabu pada waktu hendak babad, karena tempat tinggalnya berpindah-pindah, Kyai Macan kemudian dititipkan pada Nyi Partosoeto dengan pesan agar setiap tanggal 12 Rabiul Awal dan 1 Syawal disiram dengan air kembang setaman dan diborehi. Dikatakan pula bahwa air bekas siraman Kyai Macan dapat dipakai untuk menyembuhkan orang sakit. Setelah Nyi Partosoeto meninggal dunia, Kyai Macan disimpan oleh Ki Rediboyo, lalu tumurun ke Kyai Rediguno, dan tumurun lagi ke Ki Imam Setjo, yang bertempat tinggal di Dukuh Kepek, Ngeni. Ketika disimpan Ki Imam Setjo, terjadi kejadian yang agak ganjil mengenai jiwa penduduk. Setiap ada anak lahir pasti ada orang yang meninggal dunia. Di tengah suasana. yang demikian itu, ada seseorang bermimpi agar anaknya terhindar dari serangan penyakit, maka ia harus nyekar ke Kyai Macan. Saran dalam impian itupun dilaksanakan dan ternyata berhasil. Tindakan itu kemudian banyak diikuti hingga tersiar sampai ke tempat yang jauh. Semakin lama semakin banyak orang meminta berkah kepada Kyai Macan. Karena kebaikannya itu, Kyai Macan kemudian diberi nama Kyai Pradah.
Permasalahan etika pada upacara siraman Gong Kyai Pradah terdapat pada prosesi siraman itu sendiri. Masyarakat yang selalu senantiasa menjalankan tradisi turun temurun serta perumatan pusaka Gong Kyai Pradah yang dijalankan sesua pesan dari pangeran prabu. Setelah acara menghias selesai dilanjutkan dengan pemotongan kambing sesaji. Kambing sesaji ini hanya satu ekor. Itupun hanya diambil kepala dan jerohannya saja. Kepala dan jerohan kemudian dibungkus dengan kain mori untuk dijadikan sesaji ziarah.
Selesai pemotongan kambing sesaji dilanjutkan pembuatan sesaji. Pembuatan sesaji dilakukan oleh para ibu yang sudah tidak menstruasi, dengan dikoordinasi juru kunci Kyai Pradah. Sesaji dalam sebuah upacara memegang peranan penting karena kelengkapan sesaji menentukan keberhasilan upacara religius. Sesaji yang kurang lengkap dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Sesaji yang dipersiapkan dalam upacara ini adalah sesaji untuk sanggar penyimpanan, sesaji selamatan, sesaji ziarah, dan sesaji siraman. Seluruh kegiatan dijalankan dengan etika yang diajarkan oleh leluhur dan sesepuh daerah sekitar yang mengetahui prosesi yang selama ini dijalankan oleh warga masyarakat.
F.      Permasalahan Makna
Makna dari kebudayaan ritual siraman gong kyai pradah dapat dilihat dari dilihat dari :
a.       Makna dari keberadaan benda pusaka gong kyai pradah
Gong ini sendiri adalah gong milik Pangeran Prabu. Gong Kyai Macan yang disertakan Pangeran Prabu pada waktu hendak babad, karena tempat tinggalnya berpindah-pindah, Kyai Macan kemudian dititipkan pada Nyi Partosoeto dengan pesan agar setiap tanggal 12 Rabiul Awal dan 1 Syawal disiram dengan air kembang setaman dan diborehi. Dikatakan pula bahwa air bekas siraman Kyai Macan dapat dipakai untuk menyembuhkan orang sakit. Setelah Nyi Partosoeto meninggal dunia, Kyai Macan disimpan oleh Ki Rediboyo, lalu tumurun ke Kyai Rediguno, dan tumurun lagi ke Ki Imam Setjo, yang bertempat tinggal di Dukuh Kepek, Ngeni. Ketika disimpan Ki Imam Setjo, terjadi kejadian yang agak ganjil mengenai jiwa penduduk. Setiap ada anak lahir pasti ada orang yang meninggal dunia. Di tengah suasana. yang demikian itu, ada seseorang bermimpi agar anaknya terhindar dari serangan penyakit, maka ia harus nyekar ke Kyai Macan. Saran dalam impian itupun dilaksanakan dan ternyata berhasil. Tindakan itu kemudian banyak diikuti hingga tersiar sampai ke tempat yang jauh. Semakin lama semakin banyak orang meminta berkah kepada Kyai Macan. Karena kebaikannya itu, Kyai Macan kemudian diberi nama Kyai Pradah.

b.      Makna penyelenggaraan tradisi siraman gong kyai pradah
Tradisi ini dilaksanakan sebagai sarana masyarakat meminta rizki kepada tuhanya.hal ini karenakan setelah ritual siraman selesai di laksanakan bupati kota Blitar akan membunyikan gong itusebanyak 7 kali yang dimaksudkan tujuh hari dalam seminggu akan ada keberuntungan pada setiap harinya. Lewat acara yang sealalu dilaksanakan pada tanggal 1 syawal dan 12 Robiul Awal ini, masyarakat memperingati hari besar umat islam yaitu tahun baru penanggalan Hijriah serta hari lahirnya nabi Muhammad saw.

c.       Makna pembunyian gong setelah dimandikan
Maksudnya, setiap satu pukulan itu punya makna. Yakni, tujuh kali pukulan itu melambangkan tujuh hari dalam seminggu. Artinya, diharapkan warga Blitar setiap hari atau dalam tujuh hari selalu mendapat berkah. Ketika Kyai Pradah pun ditabuh oleh Bapak Bupati diperdengarkan kepada pengunjung. Setiap kali mepabuh, Bapak Bupati bertanya: “Kados pundi suantenipun ?” dijawab para pengunjung “sae”, yang dalam bahasa Indonesianya : “Bagaimana suaranya?” dijawab “bagus” . Demikian itu dilakukan tuju kali berturut-turut. Menurut kepercayaan, apabila bunyi Kyai Pradah mengaung-ngaung bergema ke segala penjuru, dianggap sebagai pertanda bahwa upacara berjalan sempurna. Masyarakat boleh berharap berkah akan melimpah di dalam kehidupan mereka, sehingga dapat tenang hidupnya. Namun, apabila terdengar bunyinya tersendat-sendat, maka masyarakat menjadi tidak tenteram, karena akan datang saat sial atau keadaan yang tidak menyenangkan kehidupan mereka.
Sesudah Kyai Pradah diperdengarkan suaranya kemudian diberi boreh. Demikian juga wayang krucil dan kenongnya. Kyai Pradah pun dibungkus kembali dengan kain mori putih yang masih baru. Dengan digendong juru kunci dan iringiringan seperti ketika menuju panggung siraman, Kyai Pradah dibawa kembali menuju sanggar penyimpanan. Tepat di depan pendopo, Bapak Bupati keluar dari barisan. Kyai Pradah disemayamkan kembali dengan posisi mendatar. Demikian pula wayang krucil dan kenong dimasukan ke dalam tempatnya semula. Kyai Pradah kemudian ditaburi dengan bunga tabur dan pintu sanggar penyimpan ditutup kembali.

d.      Makna dari maksud dan tujuan diadakannya ritual siraman gong kyai pradah
Upacara siraman Kyai Pradah dimaksudkan sebagai sarana memohon berkah. Mereka percaya bahwa air bekas siraman Kyai Pradah dapat membuat awet muda dan dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Di samping itu saat upacara merupakan saat paling baik untuk membeli alat-alat pertanian karena dengan memakai alat yang dibeli saat upacara akan mendatangkan kesuburan dan tanaman akan terbebas dari hama. Demikian pula bagi para pedagang. Mereka banyak yang datang dari luar kota Lodoyo untuk ngalap berkah. Mereka percaya meskipun pada saat upacara, dagangan tidak banyak terjual, tetapi setelah upacara berakhir, dagangan akan mudah terjual. Pada musim kemarau, siraman ini juga sebagai sarana memohon turun hujan.
Untuk masa sekarang upacara lebih dimaksudkan sebagai usaha melestarikan budaya bangsa, dimana upacara siraman Kyai Pradah merupakan naluri masyarakat Lodoyo turun-temurun yang tidak dapat dihapus begitu saja karena sudah mendarah daging.

 

G.    Penutup

a.       Kesimpulan

Siraman gong kyai pradah adalah tradiri masyarakat Blitar yang selalu senantiasa dilestarikan oleh masyarakatnya. Tradisi yang selalu diadakan setiap tanggal 1 Syawal dan 12 Robiulawal. Yang dimaksud dengan siraman Kyai Pradah adalah kegiatan memandikan benda pusaka berupa sebuah gong dengan menggunakan air kembang setaman. Upacara siraman Kyai Pradah dimaksudkan sebagai sarana memohon berkah. Mereka percaya bahwa air bekas siraman Kyai Pradah dapat membuat awet muda dan dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Kebudayaan ini memilliki hubungan yang erat dengan social kemsyarakatan yang ada di sana, dimana masyarakatnya selalu senantiasa melestarikan budya ini.
Kebudayaan siraman gong kyai pradah juga memiliki kontribusi terhadap perekonomian masyarakat sekitar. Dengan adanya acara tersebut banyak wisatawan  dari luar daerah yang datang ke tempat diadakanya ritual tersebut, masyarakat sekitar mendapatkan berkah dari peristiwa itu. Mereka dapat berjualan di sektar area ritual bahkan sejak seminggu sebelum acara dimulai.
Ritual siraman gong kyai pradah juga memiliki nilai religius serta nilai budaya yang kental. Ritual yang selalu dilestarikan menjadikan pembelajaran tersendiri untuk pendidikan, dimana kita sebagai warga Negara yang baik senantiasa melestarikan dan mencintai budaya miliki kita.