BUDAYA
RITUAL SIRAMAN GONG KYAI PRADAH SEBAGAI TRADISI MASYARAKAT BLITAR
MAKALAH
UNTUK
MEMENUHI TUGAS ULANGAN TENGAH SEMESTER GENAP
MATA
KULIAH KEBUDAYAAN INDONESIA
Yang
dibina oleh Bapak Drs. Mistaram, M.Pd. dan Bapak Drs. AAG Rai Arimbawa, M.Sn.
Oleh
Misyatul
Umayah
130251613144
UNIVERSITAS
NEGERI MALANG
FAKULTAS
SASTRA
JURUSAN
SENI DAN DESAIN
Maret
2014
A.
Latar Belakang Keberadaan
Keberadaan
kebudayaan Upacara Tradisional Siraman
Gong Kyai Pradah / Pusaka Gong Kyai Pradah Di Kel. Kalipang Kec. Sutojayan
Lodoyo Blitar. Ditinjau dari asal katanya, kata
siraman berasal dari kata siram (bahasa Jawa) berarti ‘mengguyur dengan air.
Dalam bahasa Indonesia, kata siram berarti ‘mandi’, siraman ‘berarti upacara
memandikan pusaka. Adapun Kyai Pradah adalah sebutan sebuah gong yang
dikeramatkan masyarakat Lodoyo sebagai benda pusaka.Jadi yang dimaksud dengan
siraman Kyai Pradah adalah kegiatan memandikan benda pusaka berupa sebuah gong
dengan menggunakan air kembang setaman.
Tersebutlah dalam kisah, antara tahun
1704 – 1719 Masehi di Surakarta bertahtalah seorang Raja bemama SRI Susuhun Am
Paku Buwono I. Raja ini mempunyai saudara tua yang lahir dari istri ampeyan
(bukan Permaisuri) bernama Pangeran Prabu.
Pada saat penobatan Sri Susuhunan Paku Buwono I sebagai
Raja, hati Pangeran Prabu sangat kecewa karena sebagai saudara tua Pangeran
Prabu tidak dinobatkan sebagai Raja di Surakarta sehingga timbullah
keinginannya untuk membunuh Sri Susuhunan Paku Buwoono I. Namun, akhirnya kebinginun
Pangeran Prabu tersebut tercium oleh Sri Susuhunan Paku Buwono I dan sebagai
hukumannya Pangeran Prabu diperintahkan untuk membuka hutan di daerah Lodoyo
yang pada saat itu merupakan hutan yang sangat lebat yang dihuni oleh binatang
– binatang buas serta hutan tersebut dianggap sebagai tempat yang sangat angker
dimana banyak rokh – rokh jahat berkeliaran disana.
Hukuman yang diberikan oleh Raja Sri Susuhunan Paku
Buwono I kepada Pangeran Prabu itu sebenarnya ialah agar Pangeran Prabu menemui
ajalnya di tempat hukuman karena dimakan oleh binatang- binatang buas
atau sebab-sebab lain yang
bisa terjadi di hutan yang masih liar tersebut Pangeran Prabu mengakui akan
kesalahannya serta bersedia melaksanakan hukuman yang diberikan oleh Raja yaitu
membuka hutan di daerah Lodoyo.
Keberangkatannya diikuti oleh istrinya yaitu Putri
Wandansari serta abdi kesayangannya bemama Ki Amat Tariman dengan membawa
Pusaka berupa bende yang disebut Kyai Becak. Pusaka tersebut akan digunakan
untuk tumbal hutan Lodoyo yang dianggap angker serta banyak dihuni oleh roh –
roh jahat.
Menurut beberapa cerita bahwa bende Kyai Becak pernah
digunakan oleh Demang Bocor untuk memadam- kan pemberontakan Ki Ageng Mangir
seorang sakti yang tidak setia kepada Raja. Pangeran Prabu
beserta pengikutnya berangkat dari Surakarta menuju kearah timur. Selang
beberapa bulan mereka sampai di daerah Lodoyo.
Pertama-tama mereka
datang di rumah seorang janda bemama Nyi Partasuta di hutan Ngekul. Pangeran Prabu
yang masih merasakan penderitaan dan kesedihan itu tidak lama tinggal di rumah
janda Nyi Partasuta dan ingin bertapa di hutan Pakel ( Wilayah Lodoyo bagian
barat) dan untuk itu Pusaka Kyai Becak dititipkan kepada Nyi Partasuta dengan
pesan agar:
1.
Setiap tanggal 1 Syawal (bertepatan
dengan Hari Raya Idul Fitri ) dan setiap tanggal 12 Rabiulawal ( bertepatan
dengan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW) Pusaka tersebut harus dimandikan
dengan air bunga setaman.
2.
Air bekas memandikan Pusaka tersebut
dapat digunakan menyembuhkan penyakit serta dapat menentram kan hati bagi siapa
yang mau meminumnya.
Sepeninggal
Pangeran Prabu selalu melak- sanakan segalayang pernah dipesankan oleh Pangeran
Prabu kepadanya tentang Pusaka Kyai Becak. Setelah Nyi Partasuta meninggal
dunia, Pusaka Kyai Becak diserahkan kepada Ki Rediboyo di Ngekul.
Sampai sekarang pesan Pange Ran Prabu untuk memelihara
Pusaka Kyai Pradah tetap dilaksanakan dengan baik serta menjadi suatu Upacara
Adat / Tradisional Siraman Pusaka Kyai Pradah setiap tanggal 1 Syawal dan
setiap tgl. 12 Rabiulawal dan Upacara yang terakhir ini biasanya dikunjungi
oleh puluhan ribu manusia baik dari dalam maupun luar daerah. Demikian sejarah
ringkas Pusaka Kyai Pradah di Lodoyo yang dikutip dari ceritera Babat Pusaka
Kyai Pradah di Lodoyo menurut Serat Babat Tanah Jawi.
Kebudayaan ini dirasa penting untuk dikupas secara mendalam karena
keberadaanya yang selalu dilestarikan oleh masyarakat setempat. Kebudayaan ini
memiliki keterkaitan dengan social kemasyarakatan, pendidikan, serta bidang
ekonomi. Pengkajian tentang budaya Upacara
Tradisional Siraman Gong Kyai Pradah / Pusaka Gong Kyai Pradah Di Kel. Kalipang
Kec. Sutojayan Lodoyo Blitar ini mengandung nilai sejarah serta nilai budaya
yang kental bagi masyarakat sekitarnya.
B.
Permasalahan Konsep
Upacara Tradisional Siraman
Gong Kyai Pradah / Pusaka Gong Kyai Pradah Di Kel. Kalipang Kec. Sutojayan
Lodoyo Blitar ini masih menggunakan konsep kejawen . dilihat dari pelaksanaanya yang
selalu di adakan setiap tanggal 1 Syawal dan tanggal 12 Robiul Awal. Tanggal 1
syawal dipilih karena bertepatan dengan tahun baru penanggalan Hijriah, tanggal
12 Robiul Awal adalah penanggalan lahirnya Nabi Muhammad saw. Tanggal tanggal
ini dipilih karena gong kyai pradah itu sendidri adalah benda pusaka dari
kerajaan Islam. Namun, tidak lepas dari kebudayaan yang sebenarnya tidak ada
dalam agama islam. Contohnya, sebelum diadakan siraman masyarakat mengadakan
selamatan terlebih dahulu serta penyembelihan hewan kurban.
Percampuran budaya jawa serta tradisi memperingati hari besar Islam lah
yang meladasi konsep dari ritual ini. Ritual ini juga sebagai sarana pendekatan
msaayarakat dengan pemerintah daerah disana. Masyarakat sekitar juga
mendapatkan berkah tersendiri dengan adanya ritual tersebut. Mereka dapat
berjualan di sekitar area ritual.
C.
Permasalahan Aktifitas
Masyarakat akan disibukkan
serangkaian aktifitas dari acara siraman gong kyai pradah, bahkan beberapa hari
sebelum acara siraman itu benar-benar dimulai. Upacara siraman Kyai Pradah
dilaksanakan dua kali setahun, yaitu setiap tanggal 12 Robiul Awal bertepatan
dengan hari Maulud Nabi Muhammad dan tanggal 1 Syawal bertepatan dengan hari
Raya Idul Fitri. Khusus penyelenggaraan tanggal 12 Robiul Awal upacara diadakan
secara besar-besaran, sedangkan upacara yang diadakan pada tanggal 1 Syawal
dilaksanakan secara sederhana oleh petugas yang berkepentingan saja.
Secara keseluruhan acara dalam
upacara siraman ini dapatdiklasifikasi menjadi tiga tahap:
a) Tahap persiapan,meliputi acara
pembentukan panitia, menghias tempat upacara, memotong kambing sesaji, dan
membuat sesaji.
b) Tahap pelaksanaan,meliputi acara tirakatan,
selamatan, ziarah, dan siraman.
c) Tahap penutupan, meliputi acara selamatan,
hiburan, sepasaran, dan selapanan.
Tokoh-tokoh yang berperan sebagai penyelenggara teknis
upacara adalah sebagai berikut.
a) Pejabat Pemerintah. Pada upaeara yang dilaksanakan pada
tanggal 12 Robiul Awal sebagai penanggung jawab formal pelaksana upacara adalah
Bupati Blitar, sedangkan pada upaeara 1 Syawal tokoh yang berperan adalah
Pembantu Bupati Lodoyo.
b) Juru kunci, yaitu juru kunci petilasan dan juru kunci
Kyai Pradah.
c) Para dhalang yang bertempat tinggal di Lodoyo, bertugas
membawa kenong dan wayang krucil.
d) Petugas pembawa panji-panji Kawedanan Lodoyo dan payung.
e) Pemain kesenian tradisional.
f) Pemasak sesaji.
Upacara siraman berlangsung dua
hari. Sehari menjelang acara puncak kurang lebih pukul 14.00 WIB dimulailah
acara menghias tempat upacara, dilanjutkan dengan pemotongan kambing sesaji,
serta pembuatan sesaji. Sedangkan pembentukan panitia sudah diadakan lima belas
hari sebelumnya.
Masih dalam satu rangkaian waktu,
pukul 19.00 WIB dilaksanakan tirakatan sampai pukul 04.00 WIB keesokan harinya.
Namun, ditengah acara tirakatan yaitu pukul 24.00 WIB acara dihentikan sejenak
untuk melaksanakan selamatan. Pagi harinya pukul 07.30 WIB acara dilanjutkan
dengan berziarah ke Dukuh Dadapan. Barulah pada pukul 11.00 WIB puncak acara
siraman dilaksanakan. Seusai siraman dilanjutkan dengan selamatan dan hiburan.
Acara hiburan ini biasanya diisi dengan pagelaran wayang atau orkes. Hiburan
berakhir bersama selesainya pagelaran ringgit purwo yang diselenggarakan pada
malam hari tanggal 12 Rabiul Awal.
Sebelum acara puncak siraman dilakukan, puluhan
pasukan mengarak benda-benda pusaka diantaranya, Gong Kiai Pradah dari tempat
penyimpanan benda pusaka, yang bernama paseban. Letaknya, di sebelah barat
alun-alun, yang berjarak sekitar 10 meter. Juru kunci Gong Kiai Pradah, membawa
gong itu dengan digendong menggunakan selendang.beliau berada di baris paling
depan, dengan diikuti peserta lainya yang menggunakan pakaian ala jawa.
Setelah dibawa keliling alun-alun sekali dengan
diiringi gending-gending jawa, kemudian dinaikkan ke atas panggung. Sampai di
atas panggung, kain putih atau mori yang dipakai bungkus gong itu dibuka.
Selanjutnya, gong itu dimandikan dengan air yang sudah diberi bunga setaman.
Bunga itu sudah direndam sehari semalam. Yang memandikan adalah Bupati yang
menjabat bergantian dengan juru kunci. Airnya tak dibuang namun dituangkan pada
dua drum, yang kemudian dibagi-bagikan ke warga yang sudah menunggu di bawah
panggung. Tak pelak, saat bupati atau pejabat lainnya menuangkan air bekas
dipakai memandikan gong dari atas panggung, warga berdesak-desakkan dan berebut
air bertuah itu. Setelah dimandikan, gong itu dipukul tujuh kali oleh bupati.
Setiap memukul, bupati bilang sae nopo awon (baik apa buruk). Oleh warga
dijawab, baik.
Maksudnya, setiap satu pukulan itu punya makna.
Yakni, tujuh kali pukulan itu melambangkan tujuh hari dalam seminggu. Artinya,
diharapkan warga Blitar setiap hari atau dalam tujuh hari selalu mendapat
berkah . serta tidak mendapatkan hal yang buruk. "Gong itu kami pukul tujuh
kali, dan setiap akan memukulnya, saya bilang baik atau buruk. Oleh, warga
dijawab baik atau bagus. Harapannya, dalam seminggu yang terdiri tujuh hari itu
tiap hari mendapatkan kebaikkan," ujar bupati yang sedang menjabat.
Selesai
dipukul, gong itu kembali dibungkus kain mori dan dikembalikan dengan cara
semula. Yakni, diarak keliling alun-alun sambil diiringi warga yang berpakaian
ala jawa. Saat dibawa kelling alun-alun, acara tersebut ditutup dengan acara
makan tumpeng bersama.
Sebagai penutup upacara siraman Kyai Pradah setelah lima hari diadakan
selamatan sepasaran serta selamatan selapanan pada hari ke-35 dari saat
siraman.
Kontribusi atau keterkaitan kegiatan
Upacara Adat Siraman Gong Kyai Pradah dengan kehidupan social masyarakat di
sana sangatlah besar. Dengan adanya tradisi ini dapat mempererat tali
silaturahmi antar masyarakatnya dengan para pejabat daerah yang ada di sana.
Dalam acara tersebut masyarakat umum dapat berinteraksi sengan masyarakatnya.
Begitu juga masyarakat yang ada akan lebih saling berinteraksi satu sama lain
dalam acara tersebut.
Kontribusi atau hubungan kagiatan
Upacara Adat Siraman Gong Kyai Pradah sangatlah besar karena
Ritual penyiraman Gong kyai Pradah Ini telah dijadikan sebagai even taunan bagi
dinas pariwisata Kabupaten Blitar. Karena dianggap mampu mendatangkan banyak
pengunjung dan membawa keuntungan bagi masyarakat. Masyarakat sekitar dapat berjualan
di sekitar daerah ritual bahkan seminggu sebelumnya sudah banyak pedagang yang
berjualan. Banyak juga warga luar kota yang ikut berjualan disana. Dengan
demikian dengan adanya upacara adat ini perekonomian warga sekitar ikut
terbantu.
D.
Permasalahan
Artefak
Dilihat dari segi bendanya gong kyai pradah itu sendiri adalah
sebuah gong peninggalan leluhur yang tak ubahnya bentuknya seperti gong
kebanyakan, bentuknya berupa Gong
(kempul) laras lima yang dahulu dibalut/ ditutup dengan sutera Pelangi / Cinde
dan disamping itu masih ada juga beberapa wayang krucil, kecer dan beberapa
benda lainnya.
Gong
ini niberi nama Kyai
Pradah yang artinya kyai macan, hal ini dikarenakan ketika zaman dahulu saat
Lodoyo masih berupa hutan yang lebat apabila gong Kyai Pradah itu dibunyikan
suaranya akan menggema di dalam hutan, hingga suaranya menyerupai gauman seekor
macan.
Pada saat Ki Amat Tariman sangat kebingungan karena terpisah
dengan Pangeran Prabu, sehingga akhirnya Ki Amat Tariman ingin mencoba
membunyikan Gong Kyai Becak sebanyak tujuh kali dengan maksud agar apabila
Pangeran Prabu Mendengar bunyi bende / Gong tersebut tentu akan mencari kearah
sumber suara itu.
Tetapi yang
datang ternyata bukan Pangeran Prabu seperti yang diharapkan namun beberapa
ekor harimau besar. Anehnya harimau – harimau itu tidak mengganggu kepada Ki
Amat Tariman bahkan memberikan petunjuk dimana Pangeran Prabu berada sehingga
Kyai Becak juga disebut Kyai Macan atau Kyai Pradah, hal ini juga lah yang melatar
belakangi penamaan dari Gong Pradah ini.
Ada
kepercayaan warga sekitar yang sampai sekarang masih terjaga. Warga sekitar
percaya bahwa air bekas siraman dari gong kyai pradah dapat digunakan sebagai
penyembuh segala macam penyakit. Ada juga masyarakat luar kota yang khusus
dating pada saat Upacara Siraman Gong Kyai Pradah hanya untuk mendapat berkah
dan air bekas siraman gong untuk dijadkan sebagai jimat.
E. Permasalahan Nilai Sejarah, Etika,
Dan Estetika
Nilai
sejarah dari Upacara Adat Siraman Gong Kyai Pradah adalah dari gong itu
sendiri. gong Kyai Macan
yang disertakan Pangeran Prabu pada waktu hendak babad, karena tempat
tinggalnya berpindah-pindah, Kyai Macan kemudian dititipkan pada Nyi Partosoeto
dengan pesan agar setiap tanggal 12 Rabiul Awal dan 1 Syawal disiram dengan air
kembang setaman dan diborehi. Dikatakan pula bahwa air bekas siraman Kyai Macan
dapat dipakai untuk menyembuhkan orang sakit. Setelah Nyi Partosoeto meninggal
dunia, Kyai Macan disimpan oleh Ki Rediboyo, lalu tumurun ke Kyai Rediguno, dan
tumurun lagi ke Ki Imam Setjo, yang bertempat tinggal di Dukuh Kepek, Ngeni.
Ketika disimpan Ki Imam Setjo, terjadi kejadian yang agak ganjil mengenai jiwa
penduduk. Setiap ada anak lahir pasti ada orang yang meninggal dunia. Di tengah
suasana. yang demikian itu, ada seseorang bermimpi agar anaknya terhindar dari
serangan penyakit, maka ia harus nyekar ke Kyai Macan. Saran dalam impian
itupun dilaksanakan dan ternyata berhasil. Tindakan itu kemudian banyak diikuti
hingga tersiar sampai ke tempat yang jauh. Semakin lama semakin banyak orang
meminta berkah kepada Kyai Macan. Karena kebaikannya itu, Kyai Macan kemudian
diberi nama Kyai Pradah.
Permasalahan etika pada upacara
siraman Gong Kyai Pradah terdapat pada prosesi siraman itu sendiri. Masyarakat
yang selalu senantiasa menjalankan tradisi turun temurun serta perumatan pusaka
Gong Kyai Pradah yang dijalankan sesua pesan dari pangeran prabu. Setelah acara
menghias selesai dilanjutkan dengan pemotongan kambing sesaji. Kambing sesaji
ini hanya satu ekor. Itupun hanya diambil kepala dan jerohannya saja. Kepala
dan jerohan kemudian dibungkus dengan kain mori untuk dijadikan sesaji ziarah.
Selesai pemotongan kambing sesaji
dilanjutkan pembuatan sesaji. Pembuatan sesaji dilakukan oleh para ibu yang
sudah tidak menstruasi, dengan dikoordinasi juru kunci Kyai Pradah. Sesaji
dalam sebuah upacara memegang peranan penting karena kelengkapan sesaji
menentukan keberhasilan upacara religius. Sesaji yang kurang lengkap dapat
menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Sesaji yang dipersiapkan dalam upacara
ini adalah sesaji untuk sanggar penyimpanan, sesaji selamatan, sesaji ziarah,
dan sesaji siraman. Seluruh kegiatan dijalankan dengan etika yang diajarkan
oleh leluhur dan sesepuh daerah sekitar yang mengetahui prosesi yang selama ini
dijalankan oleh warga masyarakat.
F.
Permasalahan
Makna
Makna dari kebudayaan ritual siraman
gong kyai pradah dapat dilihat dari dilihat dari :
a. Makna dari keberadaan benda pusaka
gong kyai pradah
Gong ini sendiri adalah gong milik Pangeran Prabu. Gong Kyai
Macan yang disertakan Pangeran Prabu pada waktu hendak babad, karena tempat
tinggalnya berpindah-pindah, Kyai Macan kemudian dititipkan pada Nyi Partosoeto
dengan pesan agar setiap tanggal 12 Rabiul Awal dan 1 Syawal disiram dengan air
kembang setaman dan diborehi. Dikatakan pula bahwa air bekas siraman Kyai Macan
dapat dipakai untuk menyembuhkan orang sakit. Setelah Nyi Partosoeto meninggal
dunia, Kyai Macan disimpan oleh Ki Rediboyo, lalu tumurun ke Kyai Rediguno, dan
tumurun lagi ke Ki Imam Setjo, yang bertempat tinggal di Dukuh Kepek, Ngeni.
Ketika disimpan Ki Imam Setjo, terjadi kejadian yang agak ganjil mengenai jiwa
penduduk. Setiap ada anak lahir pasti ada orang yang meninggal dunia. Di tengah
suasana. yang demikian itu, ada seseorang bermimpi agar anaknya terhindar dari
serangan penyakit, maka ia harus nyekar ke Kyai Macan. Saran dalam impian
itupun dilaksanakan dan ternyata berhasil. Tindakan itu kemudian banyak diikuti
hingga tersiar sampai ke tempat yang jauh. Semakin lama semakin banyak orang
meminta berkah kepada Kyai Macan. Karena kebaikannya itu, Kyai Macan kemudian
diberi nama Kyai Pradah.
b. Makna penyelenggaraan tradisi
siraman gong kyai pradah
Tradisi ini dilaksanakan sebagai sarana masyarakat meminta
rizki kepada tuhanya.hal ini karenakan setelah ritual siraman selesai di
laksanakan bupati kota Blitar akan membunyikan gong itusebanyak 7 kali yang
dimaksudkan tujuh hari dalam seminggu akan ada keberuntungan pada setiap
harinya. Lewat acara yang sealalu dilaksanakan pada tanggal 1 syawal dan 12
Robiul Awal ini, masyarakat memperingati hari besar umat islam yaitu tahun baru
penanggalan Hijriah serta hari lahirnya nabi Muhammad saw.
c. Makna pembunyian gong setelah
dimandikan
Maksudnya,
setiap satu pukulan itu punya makna. Yakni, tujuh kali pukulan itu melambangkan
tujuh hari dalam seminggu. Artinya, diharapkan warga Blitar setiap hari atau
dalam tujuh hari selalu mendapat berkah. Ketika Kyai Pradah pun
ditabuh oleh Bapak Bupati diperdengarkan kepada pengunjung. Setiap kali
mepabuh, Bapak Bupati bertanya: “Kados pundi suantenipun ?” dijawab para
pengunjung “sae”, yang dalam bahasa Indonesianya : “Bagaimana suaranya?”
dijawab “bagus” . Demikian itu dilakukan tuju kali berturut-turut. Menurut
kepercayaan, apabila bunyi Kyai Pradah mengaung-ngaung bergema ke segala
penjuru, dianggap sebagai pertanda bahwa upacara berjalan sempurna. Masyarakat
boleh berharap berkah akan melimpah di dalam kehidupan mereka, sehingga dapat
tenang hidupnya. Namun, apabila terdengar bunyinya tersendat-sendat, maka
masyarakat menjadi tidak tenteram, karena akan datang saat sial atau keadaan
yang tidak menyenangkan kehidupan mereka.
Sesudah Kyai
Pradah diperdengarkan suaranya kemudian diberi boreh. Demikian juga wayang
krucil dan kenongnya. Kyai Pradah pun dibungkus kembali dengan kain mori putih
yang masih baru. Dengan digendong juru kunci dan iringiringan seperti ketika
menuju panggung siraman, Kyai Pradah dibawa kembali menuju sanggar penyimpanan.
Tepat di depan pendopo, Bapak Bupati keluar dari barisan. Kyai Pradah
disemayamkan kembali dengan posisi mendatar. Demikian pula wayang krucil dan
kenong dimasukan ke dalam tempatnya semula. Kyai Pradah kemudian ditaburi
dengan bunga tabur dan pintu sanggar penyimpan ditutup kembali.
d. Makna dari maksud dan tujuan
diadakannya ritual siraman gong kyai pradah
Upacara siraman Kyai Pradah dimaksudkan sebagai sarana
memohon berkah. Mereka percaya bahwa air bekas siraman Kyai Pradah dapat membuat
awet muda dan dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Di samping itu saat upacara
merupakan saat paling baik untuk membeli alat-alat pertanian karena dengan
memakai alat yang dibeli saat upacara akan mendatangkan kesuburan dan tanaman
akan terbebas dari hama. Demikian pula bagi para pedagang. Mereka banyak yang
datang dari luar kota Lodoyo untuk ngalap berkah. Mereka percaya meskipun pada
saat upacara, dagangan tidak banyak terjual, tetapi setelah upacara berakhir,
dagangan akan mudah terjual. Pada musim kemarau, siraman ini juga sebagai
sarana memohon turun hujan.
Untuk masa sekarang upacara lebih dimaksudkan sebagai
usaha melestarikan budaya bangsa, dimana upacara siraman Kyai Pradah merupakan
naluri masyarakat Lodoyo turun-temurun yang tidak dapat dihapus begitu saja
karena sudah mendarah
daging.
G. Penutup
a. Kesimpulan
Siraman gong kyai pradah adalah tradiri masyarakat Blitar
yang selalu senantiasa dilestarikan oleh masyarakatnya. Tradisi yang selalu
diadakan setiap tanggal 1 Syawal dan 12 Robiulawal. Yang dimaksud dengan siraman Kyai Pradah adalah kegiatan
memandikan benda pusaka berupa sebuah gong dengan menggunakan air kembang
setaman. Upacara siraman Kyai Pradah dimaksudkan sebagai sarana memohon berkah.
Mereka percaya bahwa air bekas siraman Kyai Pradah dapat membuat awet muda dan
dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Kebudayaan ini
memilliki hubungan yang erat dengan social kemsyarakatan yang ada di sana,
dimana masyarakatnya selalu senantiasa melestarikan budya ini.
Kebudayaan siraman gong
kyai pradah juga memiliki kontribusi terhadap perekonomian masyarakat sekitar.
Dengan adanya acara tersebut banyak wisatawan
dari luar daerah yang datang ke tempat diadakanya ritual tersebut,
masyarakat sekitar mendapatkan berkah dari peristiwa itu. Mereka dapat
berjualan di sektar area ritual bahkan sejak seminggu sebelum acara dimulai.
Ritual siraman gong kyai pradah juga memiliki nilai
religius serta nilai budaya yang kental. Ritual yang selalu dilestarikan
menjadikan pembelajaran tersendiri untuk pendidikan, dimana kita sebagai warga
Negara yang baik senantiasa melestarikan dan mencintai budaya miliki kita.